Teknologi

Tren Dengar Audio yang Bikin Radio Mulai Ditinggalkan

CIREBON (PIPD) – Cara orang Indonesia menikmati hiburan dan mencari informasi sudah jauh berubah. Era di mana kita harus duduk manis menunggu lagu atau program favorit diputar di radio perlahan mulai lewat. Sekarang, masyarakat urban khususnya anak muda—lebih memilih mendengarkan podcast atau siniar kapan pun dan di mana pun mereka mau.

Berbeda dengan radio konvensional yang jadwalnya kaku dan sering terpotong banyak iklan, podcast menawarkan kebebasan penuh. Pendengar bisa memilih sendiri topik yang benar-benar mereka sukai. Pilihan bahasannya pun sangat beragam dan blak-blakan; mulai dari komedi segar, cerita misteri nyata (true crime), tips mengatur keuangan, hingga obrolan santai soal kehidupan sehari-hari. Sensasi mendengarkan podcast itu seperti sedang ikut nongkrong dan mendengarkan obrolan seru teman dekat sendiri.

Tren podcast di Indonesia sebenarnya mulai hangat sejak 2019, namun benar-benar meledak saat pandemi COVID-19 melanda. Ketika bosan terus-menerus menatap layar HP atau laptop saat bekerja dari rumah, banyak orang memilih mengistirahatkan mata dan beralih mendengarkan audio. Momentum inilah yang dimanfaatkan para kreator besar seperti Deddy Corbuzier lewat Close the Door, Raditya Dika, hingga geng Podkesmas untuk mengenalkan podcast ke masyarakat luas.

Salah satu alasan utama mengapa podcast begitu digandrungi adalah karena sifatnya yang bisa didengarkan sambil lalu (multitasking). Di tengah sibuknya aktivitas sehari-hari, podcast menjadi teman setia saat terjebak macet di jalan, saat naik kereta komuter, sambil memasak, berolahraga, atau bahkan sebagai pengantar tidur. Lewat aplikasi seperti Spotify, Apple Podcasts, atau YouTube, semua konten ini bisa diakses gratis hanya modal kuota internet.

Bagi para pembuat konten, podcast juga menjadi lahan bisnis baru yang menjanjikan. Modalnya relatif murah—cukup mikrofon standar dan ruang yang tenang—siapa saja sudah bisa memproduksi podcast sendiri. Uang yang dihasilkan pun tidak main-main, mulai dari sponsor produk, iklan di tengah obrolan, hingga tiket acara live podcast yang seringkali habis terjual dalam hitungan menit.

Pada akhirnya, podcast bukan sekadar tren musiman yang akan hilang dalam waktu dekat. Ini adalah cara baru menikmati audio yang terbukti jauh lebih cocok dengan gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat, praktis, dan menyukai hal-hal yang sifatnya personal.

Referensi (APA Style 7th Edition):

Katadata Insight Center. (2023). Survei perilaku konsumsi media digital di Indonesia: Pergeseran dari media konvensional ke platform on-demand. Katadata.

Spotify. (2024). Spotify insights: Southeast Asia podcast trends and listener growth report. Spotify Corporate.

We Are Social, & Meltwater. (2025). Digital 2025: Global overview report – Indonesia snapshot. We Are Social.