CIREBON – Dalam episode terbaru podcast “BICARA” yang diunggah oleh kanal YouTube PIPD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, narasumber Dra. Imroatul Fatihah, M. Ag, membedah kaitan erat antara puasa syariat dan tren kesehatan modern, intermittent fasting (IF). Meskipun keduanya memiliki landasan yang berbeda, perpaduan antara keduanya dinilai mampu memberikan dampak luar biasa bagi kesehatan tubuh.
Perbedaan Dasar dan Persamaan
Dra. Imroatul menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada motivasi dan aturan. Puasa Ramadan atau sunah didasari oleh syariat sebagai bentuk menjalankan perintah Allah dengan waktu yang telah ditetapkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari (sekitar 12 jam). Sementara itu, intermittent fasting lebih merupakan gaya hidup atau pola makan modern yang bertujuan untuk diet dengan waktu yang lebih fleksibel, biasanya berkisar antara 12 hingga 18 jam.
Namun, keduanya memiliki persamaan dalam hal mengatur pola makan dan membatasi asupan secara berlebihan. Baik puasa maupun IF memicu reaksi tubuh yang disebut sebagai metabolic switch atau peralihan pembakaran metabolisme.
Proses Pembakaran Lemak dan Autopagi
Secara biologis, tubuh manusia mengalami fase-fase tertentu saat tidak mendapatkan asupan makanan:
- 0–6 jam: Tubuh membakar glukosa dari makanan terakhir.
- 6–12 jam: Tubuh menggunakan cadangan glikogen (gula otot/hati) untuk menjaga kestabilan gula darah.
- Setelah 12 jam: Cadangan glukosa habis, sehingga tubuh mulai melakukan pembakaran lemak sebagai sumber energi.
Dra. Imroatul menekankan bahwa jika puasa dan IF dikolaborasikan, tubuh akan mengalami proses autopagi. Dalam proses ini, sel-sel tubuh akan secara alami “memakan” atau membersihkan sel-sel yang jahat dan kotoran dalam tubuh, sehingga dapat menangkal penyakit degeneratif.
Manfaat bagi Penderita Asam Lambung dan Diabetes
Banyak orang khawatir berpuasa saat memiliki penyakit asam lambung, namun Dra. Imroatul justru menyatakan bahwa puasa dapat memperbaiki metabolisme dan mengatur ritme kerja lambung agar lebih teratur. Selain itu, puasa sangat dianjurkan bagi penderita diabetes untuk memperbaiki sensitivitas insulin dan melakukan “puasa glukosa”. Setelah melewati masa adaptasi, tubuh biasanya akan terasa lebih bugar, fit, dan konsentrasi meningkat karena tubuh telah bersih dari toksin.
Tips Puasa Sehat untuk Generasi Muda
Agar manfaat puasa tidak hilang, Dra. Imroatul memberikan tips bagi para pemuda untuk menjaga pola makan saat berbuka. Beliau menyarankan untuk menghindari empat hal utama, yaitu: minyak (gorengan), tepung, gula, dan nasi putih.
Sebagai gantinya, pilihlah real food atau makanan yang kualitasnya terjaga dan belum banyak diolah, seperti buah-buahan tanpa gula tambahan, sayuran, serta protein tanpa lemak seperti telur, tempe, tahu, atau daging putih (unggas) tanpa kulit.
“Pilih makanan yang berkualitas. Jangan segala dimakan saat berbuka, karena itu akan merusak usaha kita dari sahur hingga magrib,” pungkasnya.