Podcast Bicara

Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi Puasa Ramadan: Dari Masa ke Masa

Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi Puasa Ramadan: Dari Masa ke Masa

CIREBON – Puasa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah ini, terdapat sejarah panjang dan makna filosofis mendalam yang menyentuh sisi spiritual setiap Muslim. Dalam episode terbaru podcast “BICARA” yang dikelola oleh PIPD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, H. Mahdi, M.Ag, seorang dosen di kampus tersebut, membedah asal-usul hingga tradisi puasa yang berkembang di masyarakat.

Sejarah dan Perintah Puasa

Menurut H. Mahdi, secara historis, perintah puasa Ramadan bagi umat Nabi Muhammad SAW mulai dilaksanakan pada tahun kedua Hijriah, tepatnya sekitar 16 bulan setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah. Namun, ibadah puasa sendiri sebenarnya sudah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu.

“Puasa itu tidak hanya pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi ada pada masa nabi-nabi sebelumnya,” jelas H. Mahdi merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 183. Ia menyebutkan bagaimana Nabi Adam, Nabi Idris, hingga Nabi Daud melakukan puasa dengan tata cara yang berbeda. Nabi Idris dikenal dengan puasa Dahr (sepanjang tahun), sementara Nabi Daud melaksanakan puasa selang-seling.

Makna “Ramadan” sebagai Pelebur Dosa

Secara bahasa, Ramadan memiliki arti “membakar” atau “meluluhkan”. Istilah ini menggambarkan kondisi cuaca di Arab yang sangat panas, namun secara maknawi, Ramadan menjadi momentum untuk membakar atau meleburkan dosa-dosa yang telah dilakukan hamba-hamba-Nya.

Fasting (puasa) juga dimaknai sebagai proses penyucian diri dari segala tirani hawa nafsu dan sifat buruk seperti berbohong atau gibah. “Puasa itu sangat rahasia sekali, makanya janji Allah, Allahlah yang akan memberikan pahalanya langsung,” tambah H. Mahdi.

Aturan dan Golongan yang Diwajibkan

Dalam perspektif fikih, puasa diwajibkan bagi mereka yang sudah balig dan berakal (mukallaf) serta dalam kondisi sehat. Namun, Islam memberikan kemudahan (rukhsah) bagi mereka yang tidak mampu, seperti orang tua renta yang cukup membayar fidyah atau orang sakit. “Islam itu addinu yusrun, agama yang memudahkan hamba-Nya dan tidak membebani,” tegasnya.

Tradisi dan Keunikan Angka Sembilan

H. Mahdi juga menyoroti berbagai tradisi positif di masyarakat, seperti buka puasa bersama, sahur bersama, hingga tadarus Al-Qur’an. Di Cirebon sendiri, terdapat tradisi unik bernama “Boboran Syawal” yang biasanya lebih ramai dengan kegiatan makan bersama pada tanggal 7 Syawal setelah menunaikan puasa sunah enam hari.

Salah satu hal menarik yang dibahas adalah filosofi Ramadan sebagai bulan kesembilan. H. Mahdi menjelaskan bahwa angka 9 merepresentasikan nilai istikamah. Secara matematis, perkalian angka 9 akan selalu menghasilkan angka yang jika dijumlahkan kembali menjadi 9 (misalnya 3×9=27, 2+7=9). Hal ini melambangkan bahwa seorang Muslim harus tetap tegak dan konsisten dalam imannya, baik di awal maupun di akhir bulan.

Pesan untuk Umat

Di akhir perbincangan, H. Mahdi mengingatkan pentingnya menjaga sunah-sunah puasa, seperti menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Sahur bukan sekadar pengisi tenaga, melainkan fondasi agar ibadah puasa dapat dijalankan secara maksimal tanpa merasa terbebani.

“Manfaatkan dan isi bulan puasa ini sebaik mungkin sebagai upaya menahan hawa nafsu dan pelebur dosa dalam diri kita,” tutupnya.