Pejuang Skripsi

Lulus Tanpa Skripsi? Ini Strategi Jitu Mengonversi Tugas Akhir Menjadi Artikel Jurnal Ilmiah Berstandar Sinta

CIREBON (PIPD) – Perubahan regulasi melalui Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2024 (disebutkan dalam sumber sebagai Permen DIKTI Sainttech Nomor 39 Tahun 2025) membawa angin segar bagi mahasiswa tingkat akhir. Aturan baru ini memungkinkan tugas akhir sarjana tidak lagi melulu dalam bentuk skripsi, melainkan dapat berupa publikasi ilmiah. Menanggapi hal tersebut, Dr. Ahmad Arifudin, M.Pd., selaku Ketua Publikasi Jurnal Al-Ibtida UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, membedah tuntas strategi mengonversi skripsi menjadi jurnal dalam episode penutup “Podcast Pejuang Skripsi”.

Menghindari Jebakan “Copy-Paste”

Dr. Arifudin menekankan bahwa kesalahan paling fatal yang sering dilakukan mahasiswa adalah melakukan salin-tempel (copy-paste) mentah-mentah dari naskah skripsi ke format jurnal. Meskipun memiliki komponen yang mirip, skripsi dan artikel jurnal memiliki karakteristik bahasa dan kedalaman yang sangat berbeda. Skripsi umumnya sangat detail dan bisa mencapai 80 hingga 150 halaman, sementara artikel jurnal dituntut untuk lebih fokus pada temuan tertentu dengan panjang hanya 10 hingga 20 halaman.

Langkah Awal: Cari Jurnal Target dan Gunakan Template

Strategi pertama yang harus dilakukan mahasiswa adalah menentukan jurnal target sebelum mulai menulis. “Pastikan ruang lingkup (focus and scope) jurnal sesuai dengan bidang keilmuan atau program studi Anda,” ujar Dr. Arifudin. Hal ini sangat penting agar kerja menjadi lebih sistematis karena setiap jurnal memiliki gaya selingkung atau template yang unik. Setelah menemukan jurnal yang tepat, mahasiswa wajib mengunduh template tersebut dan menyesuaikan tulisannya dengan format yang diminta.

Selain itu, judul skripsi yang biasanya bersifat institusional dan menyebutkan lokasi penelitian secara spesifik perlu diubah menjadi lebih ringkas, informatif, dan menarik untuk format artikel. Jika skripsi memiliki banyak variabel, mahasiswa bahkan bisa memecahnya menjadi beberapa artikel jurnal dengan fokus variabel yang berbeda guna efisiensi publikasi.

Menerapkan Struktur IMRAD dan Teknik Sintesis

Secara teknis, artikel jurnal yang kompetitif harus mengikuti struktur IMRAD (Introduction, Method, Result, and Discussion). Di bagian Pendahuluan, penulis harus mampu memaparkan tiga elemen kunci:

  • Urgensi Riset: Mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.
  • State of the Art: Ringkasan atau sintesis dari 5-10 penelitian terbaru yang relevan dengan topik.
  • Gap Analysis (Kesenjangan): Menunjukkan apa yang belum dilakukan oleh peneliti sebelumnya untuk menyajikan kebaruan (novelty).

Pada bagian metode, mahasiswa diminta menuliskan proses riset secara operasional dan teknis (sekitar 5-6 paragraf) agar peneliti lain dapat mereplikasi penelitian tersebut. Terkait pengutipan, Dr. Arifudin menyarankan mahasiswa untuk melakukan sintesis atau parafrase daripada mengutip pendapat ahli satu per satu. Dengan membandingkan beberapa referensi sekaligus untuk satu pernyataan, tulisan akan menjadi lebih padat dan ringkas sesuai standar jurnal.

Publikasi Sebagai Kontribusi Nyata

Di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, publikasi pada jurnal terakreditasi minimal Sinta 4 dapat menjadi syarat lulus tanpa skripsi. Namun, Dr. Arifudin mengingatkan bahwa publikasi bukan sekadar formalitas kelulusan. “Sidang munaqosah adalah tahap akhir belajar di kampus, tetapi publikasi ilmiah adalah awal dari kontribusi nyata mahasiswa untuk pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya. Melalui publikasi, hasil riset tidak akan berakhir sebagai pajangan di rak perpustakaan, melainkan dapat diakses, dimanfaatkan, dan menjadi referensi bagi publik luas.