CIREBON (PIPD) – Ibadah puasa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan menahan lapar dan haus, melainkan sebuah sarana penyucian diri (tazkiyatun nafs) untuk mencapai kesempurnaan iman dan ibadah. Bapak Haji Mahdi, M.Ag., seorang dosen di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menjelaskan bahwa puasa bertujuan membentuk ketaatan dan meningkatkan keimanan melalui proses pembersihan jiwa serta raga agar menjadi lebih sehat dan fit.
Jejak Sejarah dari Masa ke Masa Secara historis
perintah puasa Ramadan bagi umat Islam turun pada tahun kedua Hijriah, setelah Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah selama kurang lebih 16 hingga 18 bulan. Namun, praktik puasa sebenarnya sudah ada sejak zaman nabi-nabi terdahulu. Haji Mahdi menyebutkan beberapa contoh, seperti Nabi Adam, Nabi Idris yang melakukan puasa sepanjang tahun (Dahr), Nabi Musa yang berpuasa selama 40 hari, hingga Nabi Daud yang berpuasa secara selang-seling sehari. Ibadah ini secara hukum diwajibkan bagi mereka yang sudah balig dan berakal (mukalaf). Meski demikian, Islam tetap memberikan kemudahan (rukhsah) bagi mereka yang memiliki uzur, seperti orang tua renta yang sudah tidak lagi kuat secara fisik, dengan cara menggantinya melalui pembayaran fidyah.
Makna Ramadan dan Filosofi Angka Sembilan
Nama “Ramadan” sendiri secara harfiah memiliki arti “membakar”. Dalam konteks spiritual, Ramadan dipandang sebagai waktu untuk membakar atau meluluhkan dosa-dosa yang telah dilakukan seorang hamba agar ia dapat kembali pada fitrah yang suci. Lebih jauh, Haji Mahdi menyoroti keunikan Ramadan sebagai bulan kesembilan yang melambangkan keistikamahan. Dalam matematika, angka sembilan dianggap sebagai angka yang istikamah; sebagai contoh, hasil perkalian angka sembilan (seperti 3×9=27 atau 9×9=81) jika dijumlahkan digit-digitnya (2+7 atau 8+1) akan selalu kembali menghasilkan angka sembilan. Hal ini menjadi simbol bahwa melalui madrasah Ramadan, umat Islam diharapkan mampu membentuk pribadi yang teguh dan konsisten dalam ketaatan.
Adab dan Tradisi yang Memberkahi Dalam menjalankan puasa
Terdapat sunah-sunah penting yang membawa keberkahan, yaitu menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Sahur dipandang sebagai pondasi kekuatan fisik sekaligus sumber barokah. Beliau menekankan bahwa sengaja menunda waktu berbuka karena merasa masih kuat justru dianggap tidak baik, karena sunnah yang benar adalah segera membatalkannya saat waktu magrib tiba. Tradisi Ramadan di masyarakat juga memperkuat nilai kebersamaan dan jamaah melalui kegiatan buka bersama, sahur bersama, serta tadarus Al-Qur’an. Di wilayah Cirebon, nilai-nilai ini berakulturasi dengan budaya lokal melalui tradisi “Boboran Syawal” yang dirayakan pada tanggal 7 Syawal setelah menyelesaikan puasa sunah enam hari. Melalui pemahaman sejarah dan tata cara yang benar, Ramadan diharapkan menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk meningkatkan kesehatan jiwa dan raga demi mencapai derajat takwa.